Kamis, 06 Desember 2012

Dominasi Ornamen Patra Punggel Pada Bangunan Wadah/Bade


Dominasi Ornamen Patra Punggel Pada Bangunan Wadah/Bade
(Matakuliah Ornamen Satu)
PSRD  PS Kriya Produk ISI Denpasar
(Oleh: I Gusti Ngurah Agung Jaya CK.7
NIP: 196805161998021001, 122012)




                                                                Abstrak
            Kekuasaan  sebuah teks untuk mencari tahu dan menunjukkan asumsi yang dipegang teks tersebut. Secara lebih khusus, melakukan kekuasaan atas oposisi biner hierarki. Ia ingin menguasai titik-titik buta dari teks-teks, yaitu asumsi tak di sadari atau tak di akui yang bekerja dalam teks.  Dalam hal ini termasuk  pula tempat dalam sebuah teks di mana strategi retorikanya justru bekerja melawan logika argumentasinya sendiri, atau dengan kata lain ketegangan antara apa yang ingin di katakan oleh sebuah teks dengan apa yang tak bisa di katakannya.
             Bentuk penyederhanaan gambar tumbuhan dengan tidak meninggalkan sifat khusus tumbuh-tumbuhan yang di gambar. Usaha menyederhanaan bentuk itu disebut mengubah atau menstilir jenis tumbuh-tumbuhan yang di gubah, untuk kepentingan seni ukir, antara lain daun ganggeng, daun waru, batang tumbuh-tumbuhan yang merambat atau menjalar, disebut  "lung". Disampung itu bunga buah juga banyak yang di gubah. Ukiran bermotif tumbuh-tumbuhan menjadi motif pokoknya, adalah batang dan daun yang di gubah melilit atau melengkung oleh karena itulah, maka "lung" atau "gelung". Ini biasanya di lengkapi dengan motif-motif tumbuhan, yang berukuran lebih kecil sebagai isian bidang di sekitar, yang di gubah dari kuncup daun atau kuncup bunga yang disebut "angkup". Kadang-kadang gubahan dari sekuntum bunga yang sedang kembang disebut "ceplok".  Angkup dimaksudkan juga untuk menyebut lipatan daun atau daun yang melengkup pada yang lain.
            Bentuk dasar lingkingan tumbuhan paku, jenis flora, dengan lengkung-lengkung daun muda, tumbuhan paku. Bagian dari ini terdisi dari susunan dari batun poh (biji mangga), potongan lingkingan tumbuhan paku, jengger siap (Jengger ayam), ampas nangka(Kulit nangka), kuping guling(telinga babi), pepusuhan(tunas mudah), dan util(ekor kalajengking).
            Pengulangan dengan lengkung timbal balik, atau searah pada gegodeg hiasan sudut-sudut atap bangunan, dapat pula dengan pola mengambang untuk bidang-bidang lebar, bervariasi atau kombinasi dengan patra-patra yang lainnya. Ia merupakan patra yamg paling banyak di gunakan. Selain bentuknya yang murni sebagai patra, patra umumnya melengkapi segala bentuk kekarangan (patra dari jenis fauna), hiasan bagian lidah naga. Patra api-apian, ekor singa dan hiasan-hiasan pelengkap.
            Hiasan di lihat dari segi etomologi, memberikan gambaran yang lengkap sangat di perlukan. Bermacam-macam corak dan bermacam-macam teknik serta penggunaannya. Ada berupa bentuk, jenis, bahan, dan penggunaan hiasan. Di lihat dari segi bentuk, ternyata ada yang menggunakan bentuk dua dimensional seperti: Hiasan pada tembok, kertas dan sebagainya. Ada pula yang menggunakan bentuk relief seperti ukiran pada batu, kayu, dan sebagainya.
            Dari segi bahan, ternyata ada yang menggunakan kertas, kayu, batu, logam, bambo, tanah liat, kain, dan sebagainya. Sedangkan jika di raba, di pegang ada yang halus, kasar, dan mengerikan. Dari segi kegunaan, ada sebagai hiasan dan ada pula sebagai barang pakai, maka
jika di rumuskan bahwa ragam hias yang di wujudkan dalam bentuk dua di mensional dan tiga di mensional. Media yang di pakai membentuk hiasan adalah: titik, garis, bentuk, ruang, sinar, warna, ritme, harmoni, penonjolan dan keseimbangan.
            Struktur bangunan wadah/bade terdiri dari:  a) Bagian Kaki: palih bacem,bedawang, gunung tajak, dan gunung gelut.  b) Bagian Badan: palih padma negara, sancak gede, taman gede, dan padma sari. c) Bagian Kepala: badan dara, rongan, dan tumpang. Cara membuat gegulak (ukuran), ukuran, dari bahan bambo, dengan palih wayah, capak, bacem, gunung rangin, pahe, selat, kayu pola di selingi rang kisan sancak. Taman batur arari, palih bade terdiri dari tumpang atap bertingkat tiga, lima, tujuh, dan Sembilan sesuai catur wangsa. Ada juga tumpang tiga belas, lima belas, dan Sembilan belas. Semua palih muncul dari badan, tulang menghadap Bhatara nawasanga. Setiap palih merujuk pada Sanghyang Citragotra, Sanghyang Citraangkara, Sanghyang padda,  Sanghyang Asta Cikaragatra,  Sanghyang Rasmining, dan Sanghyang Bhawana. Mengawali dari pepalihan membakar wadah dengan gegulak di kuburan.

Kata Kunci: dominasi, Patra Punggel, Bangunan wadah/Bade

1.1  PENDAHULUAN                                                                                                          Pengaruh Globalisasi pada masyarakat Bali saat ini, sudah masuk kedalam sendi-sendi kehidupan ber-agama Hindu di Bali. sehingga para seniman di Bali mulai melirik potensi seni yang dapat diproduksi secara masal, dan membuka banyak  lapangan pekerjaan.  Terbukanya lapangan pekerjaan ini, membuat seni rupa yang dulunya sebagai persembahan mulai bergeser menjadi seni produk, yang di jual belikan.
              Piliang dalam makalahnya berjudul " Menciptakan keunggulan lokal untuk Merebut Peluang Global". Mengatakan, budaya-budaya lokal di dalam era globalisasi ekonomi, informasi dan kultur dewasa ini, berada di dalam sebuah kondisi tarik-menarik atau tegangan (tersion), dalam kaitannya dengan berbagai tantangan dan pengaruh globalisasi.  Menghadapi pada pilihan-pilihan yang di lematis, disatu pihak globalisasi di lihat oleh budaya-budaya lokal sebagai sebuah " peluang" bagi pengembang potensi diri dan keunggulannya di dalam sebuah medan persaingan global yang komplek.
              Globalisasi dilihat pula sebagai sebuah "Ancaman" (Threat) terhadap eksistensi dan keberlanjutan budaya lokal itu sendiri. Globalisasi adalah heterogenisasi, sekaligus homogenisasi. Kekuatan Heterogensasi, budaya lokal dapat terseret mengancam keberlanjutan dan eksistensinya dan kehilangan identitasnya (Piliang, 2005:1). Peluang  dalam globalisasi adalah  banyaknya para perajin memproduksi bangunan suci (Pelinggih), dengan teknik cetak, sehingga mampu memproduksi pelinggih secara besar-besaran.  Produk pelinggih ini dapat kita amati disepanjang jalan antara desa Lukluk dan Desa Kapal dan disepanjang Jalan Ida Bagus Mantra. Bebagai model pelingih di tawarkan, berjejer menghiasi kanan dan kiri jalan.  Pelinggih ini menampilkan berbagai motif rupa, dilihat dari bahan, ada yang menggunakan norma aturan asta kosali bahan yang sudah ditetapkan dalam penggunaan bahan bangunan suci.
            Menurut Buku Indik Ngawangun Merajan mengatakan seperti dibawah ini.
…"Ngewangun bebaturan malakar paras (Batu padas), citak (Tanah liat yang dibakar sampai berwarna merah) lan batu sane medaging rongan ( batu apung. Genah ring Kiwa (kanan)"…,(Anom,2002,hal 8). 
Ada yang dibuat dari berupa hasil cetakan beton, ada pula yang menggunakan berbagai material batu, seperti batu apung, batu berwarna, batu lahar dingin. Melihat hal ini dalam menggunakan bahan baku pelinggih mengalami pergeseran secara berlahan-lahan. Menurut Buku  Arsitektur Tradisional Daerah Bali Mengatakan Bahwa: Lelengisan,  merupakan bentuk hiasan tanpa ukiran, keindahan dari bentuk-bentuk hiasan dengan permainan variasi timbul tenggelamnya bidang-bidang hiasan dan penonjolan bagian-bagian tertentu.  Bentuk-bentuk hiasan lelengisan umumnya di satukan dengan hiasan pepalihan (Gelebet, 1981/1982: 337). 
            Melihat perkembangan yang makin pesat muncul bentuk bangunan suci seperti tidak menampilkan ornamen Bali, secara keseluruhan, tapi menampilkan bungkus luar dari bentuk ornamen, disebut juga bentuk lelengisan atau bentuk global dari ornamen Dari kalangan interior disebut minimalis. Melihat hal tersebut diatas bahwa, sudah ada pergeseran yang sangat besar dalam pembuatan bangunan suci, baik dilihat dari segi bahan, bentuk, dan kepraktisan dalam pemasangan atau mendirikan bangunan suci. Melihat fenomena ini, dalam era globalisasi menjadi ancaman, terhadap perkembangan ornamen  Bali yaitu Patra punggel.
              Ornamen patra Punggel yang biasanya menghiasi  bangunan suci (Pelinggih ), sedikit demi sedikit di kurangi dalam menghias pelinggih.  Ini terdapat pada cetak pelinggih beton cetak dengan menggunakan bias melile, batu lahar dingin dan sebagainya, menampilkan lelengisan, sama sekali tidak menonjolkan ornamen.
            Fenomena ini  membuat beberapa kalangan seniman dan budayaan sangat takut, kehilangan seni ornamen Bali yang terdapat pada bangunan suci di Bali. Di tengah-tengah adanya kekawatiran akan memudarnya kesenian yang bersifat tradisional, muncullah gerakan yang berusaha untuk membangkitkan kembali, agar kesenian tradisional dapat dijadikan landasan, untuk menangkal budaya luar yaitu Pesta Kesenian Bali (Yoety,1987:29).
            Dalam perjalannya pemerintah propinsi Bali sudah berusaha menampilkan karya-karya seminan yang dipajang pada setiap Pesta Kesenian Bali. Di sisi lain banyak seniman yang tidak mendapat tempat dalam ajang bergengsi tersebut. Karya seniman ukir masih sedikit mendapat tempat dan masih bersifat kelompok yang mewakili seniman ukir. Motif ornamen yang menonjol adalah patra punggel. Patra punggel merupakan warisan budaya, yang secara turun temurun diwarisankan oleh ahli waris generasi muda yang berminat menekuni seni ukir motif patra punggel Bali.
            Secara garis besar motif dalam seni ukir mencakup tiga hal yaitu: a) Motif dalam ragam yaitu ragam utuh hiasan (ragam hias), yaitu motif tmbuh-tumbuhan,motif binatang, dan motif geometris. b)  Motif adalah mempunyai ciri khusus atau gaya suatu hasil seni, yaitu: seni ukir motif pejajaran, motif jepara, motif bali, dan lain sebagainya. c) motif adalah menunjukkan jaman atau masa, di buatnya seni kerajian itu, yaitu seni ukir jaman Hindu, seni ukir jaman Islam dan sebagainya (Soepratno. 2007: 9-10)
            Menurut pengetian tersebut di atas pada dasarnya motif mengandung kekhususan. Ciri khusus atau karakteristik terutama sekali motif dalam dua pengertian. Lahirnya motif atau gaya itu, karena dasar kekhususanya. Bahkan sifat lebih kuat lagi, jika dikatakan karena adanya penampilan pribadi pada hasil karya ukir itu, maka dari itu, jika di katakan seni ukir motif Bali. Seni ukir itu menunjuk pribadi orang daerah Bali.
            Motif tumbuhan yaitu: penyederhanaan gambar tumbuhan dengan tidak meninggalkan sifat khusus tumbuh-tumbuhan yang di gambar. Usaha menyederhanaan bentuk itu disebut mengubah atau menstilir jenis tumbuh-tumbuhan yang di gubah, untuk kepentingan seni ukir, antara lain daun genggong, daun waru, batang tumbuh-tumbuhan yang merambat atau menjalar, disebut  "lung". Disampung itu bunga buah juga banyak yang di gubah. Ukiran bermotif tumbuh-tumbuhan menjadi motif pokoknya, adalah batang dan daun yang di gubah melilit atau melengkung oleh karena itulah, maka motif pokok itu disebut "lung" atau "gelung". Motif pokok ini biasanya di lengkapi dengan motif-motif tumbuhan, yang berukuran lebih kecil sebagai isian bidang di sekitar motif pokok, yang di gubah dari kuncup daun atau kuncup bunga yang disebut "angkup". Kadang-kadang gubahan dari sekuntum bunga yang sedang kembang disebut "ceplok".  Angkup dimaksudkan juga untuk menyebut lipatan daun atau daun yang melengkup pada yang lain.
            Seni ukir motif tumbuh-tumbuhan, memberikan kesan geometri (luwes), karena sifat tumbuhan yang melilit, melengkung dan melingkar-lingkar, motif tumbuhan dapat di gubah dengan banyak variasi dan cukup banyak pula aneka tumbuhan yang sifatnya luwes dan indah (Bastomi, 1986: 6-7).
Dominasi ornamen patra punggel sangat kental lebih menonjol dari ornamen yang lainnya. Untuk memahami ornamen patra punggel dari segi kata mengatakan dalam kamus umum Indonesia, menyatakan bahwa patera: stiliran dari daun (1976: 717). Punggel adalah punggal yang terpotong atau patah ujungnya (pucuknnya) menunggal: memotong atau mematahkan (ujung, pucuk dan sebagainya) (1976: 777).  Jadi Patra punggel adalah stiliran dari daun atau tumbuh-tumbuhan yang mempunyai daun, pucuk-pucuk di ambil dan di rangkai menjadi sebuah motif patra punggel.
            Pepatran dalam buku Arsitektur Tradisional Bali, menyatakan bahwa mewujudkan gubahan-gubahan keindahan di hiasan dalam patra-patra yang disebut patra atau pepatran. Pepatran yang juga banyak di dasarkan pada bentuk-bentuk keindahan flora, disebut pepatran dengan jenis flora yang di wujudkan. Ragam hias yang tergolong pepatran merupakan pola yang
berulang-ulang, dapat pula di wujudkan dalam pola kembang. Masing-masing patra memilki identitas yang kuat untuk menampilkan, merancang, tanpa meninggalkan pakem-pekem identitasnya.
            Patra punggel, mengambil bentuk dasar lingkingan tumbuhan paku, jenis flora, dengan lengkung-lengkung daun muda tumbuhan paku. Bagian dari patra punggel adalah terdisi dari susunan dari batun poh (biji Mangga), potongan lingkingan tumbuhan paku, jengger siap (mahkota ayam jantan), ampas namgka ( kulit pembungkus dari buah nangka yang ada didalam buah nangka), kuping guling ( telinga babi yang di bakar diatas bara api), pepusuhan (bakal jadi pucuk baru), dan util ( stiliran diambil dari ekor kala jengking) (1981/1982: 331).
            Patra punggel merupakan pengulangan dengan lengkung timbal balik, atau searah pada gegodeg hiasan sudut-sudut atap bangunan, dapat pula dengan pola mengambang untuk bidang-bidang lebar, bervariasi atau kombinasi dengan patra-patra yang lainnya. Patra punggel merupakan patra yamg paling banyak di gunakan. Selain bentuknya yang murni sebagai patra punggel utuh, patra punggel umumnya melengkapi segala bentuk kekarangan (patra dari jenis fauna),hiasan bagian lidah naga. Patra punggel api-apian, ekor singa dan hiasan-hiasan pelengkap (1981/1982: 333). Masing-masing bagian patra punggel yang dijelaskan diatas, merupakan simbol-simbol yang mewakili isi dunia baik yang berada pada buana alit maupun buana agung. Semuanya bersinergi membentuk satu kekuatan yang melahirkan nilai-nilai sakral sebagai warisan budaya yang dipercaya memberikan kebahagian dan kedamaian lahir bathin. Hal ini terpancar pada ornamen patra punggel Bali.
            Patra punggel merupakan bagian dari ornamen Bali yang menghiasi bangunan rumah, bangunan tempat suci, dan berbagai perabotan alat upacara dan rumah tangga, yang dipergunakan oleh masyarakat Bali sehari-harinya. Kata ornamen patra punggel dilihat dari segi etomologi, memberikan gambaran yang bersifat menghias. Bermacam-macam corak dan bermacam-macam teknik serta penggunaannya ditampilkan dalam penerapan ornamen patra punggel. Ornamen patra punggel ada berupa bentuk, jenis, bahan, dan penggunaan ornamen patra punggel. Dilihat dari segi bentuk, ternyata ada yang menggunakan bentuk dua dimensional seperti: ornamen pada tembok, kertas dan sebagainya. Ada pula yang menggunakan bentuk relief seperti ukiran pada batu, kayu, dan sebagainya.
            Dari segi bahan, ternyata ada yang menggunakan kertas, kayu, batu, logam, bambo, tanah liat, kain, dan sebagainya. Sedangkan jika di raba, di pegang ada yang halus, kasar, dan mengerikan. Dari segi kegunaan ornamen, ada sebagai hiasan dan ada pula sebagai barang pakai, maka jika di rumuskan bahwa ornamen adalah ragam hias yang di wujudkan dalam bentuk dua dimensional dan tiga dimensional. Media yang di pakai membentuk ornamen patra punggel  adalah: titik, garis, bentuk, ruang, sinar, warna, ritme, harmoni, penonjolan dan keseimbangan (Susanto, 1984: 1).
            Ornamen patra punggel memiliki sifat menghias. Ornamen lebih cendrung kepada sifat hiasanya, sedangkan decorate patra punggel cendrung kepada tata ruang, baik ruang dalam (interior) maupun Ruang luar (exsterior). Ornamen patra punggel  adalah hiasan yang bergaya geometris. Pendapat lain menyatakan ornamen patra punggel adalah suatu hiasan pada suatu bentuk datar dari hasil kerajinan tangan (perabutan, pakaian, arsitektur dan sebaginya). Ornamen patra punggel adalah bagian dari pada seni rupa, maka lasim disebut seni hias atau ragam hias. Ornamen patra punggel lebih menonjolkan kerumitan dan kesan raba yang dominan berlubang untuk menampilkan karakteristik karya yang dinamis dan harmonis, dimana ornamen patra punggel tersebut diterapkan untuk menambah keindahan(1984: 13)
            Ornamen patra punggel yang berkembang di Indonesia lahir sejak jaman mesolitikum sampai sekarang di jaman globalisasi ini. Ornamen tersebut mempunyai makna atau lambang tertentu. Ini di sebabkan oleh bermacam-macam kepercayaan yang dianut di Indonesia. Walaupun tidak mengandung arti magis di dalam masyarakat yang postmodern, makna lambang masih bertahan. Perwujudan lambang hampir semuanya di ambil dari alam ciptakan Tuhan antara lain: tumbuhan-tumbuhan, binatang, manusia, matahari, bulan dan lainnya. Bahkan berhasil menciptakan mahluk khayal sebagai mahluk khayal sebagai mahluk kayangan. Dari sekian banyak macam tumbuh-tumbuhan yang lazim di wujudkan ialah: teratai, kalpataru, hayat, padi, dan kapas sebagai lambang kehidupan dan kesuburan.  Macam-macam binatang yang lazim di wujudkan ialah: a) banteng, sebagai lambang kekuatan, keberanian dan kerakyatan. b)  kerbau, ular atau naga, gajah,  lambang dunia bawah dan lambang kesuburan, kendaraan akhirat, dan  penolak kejahatan. c) kadal dan biawak, sebagai penjelmaan dewa. d) kerang, lambang dewa wisnu. e) merak, sebagai lambang kendaraan dan keindahan. f) nuri, lambang dewa asmara. g) garuda, lambang kendaraan winu, kekuatan, kemegahan,kebenaran. h) ayam jantan sebagai lambang matahari, kekuatan, keberanian, kesuburan.  Manusia di lambangkan sebagai penangkis kejahan, penangkis bahaya, dan sebagai gambaran nenek moyang. Ornamen di artikan candra sengkala yaitu untuk memperingati agar tidak lupa, di artikan dan falsafah sesuai dengan situasi dan kondisi waktu itu (1984: 14).
            Di Bali ornamen patra punggel berkembang sangat pesat, baik yang diterapkan pada bangunan rumah, tempat suci dan alat rumah tangga. Tapi dari semua itu patra punggel lebih ditonjolkan pada sarana upacara pitra yadnya yaitu upacara ngaben disebut bangunan wadah/bade. Sarana ini dipergunakan untuk mengusung jenazah untuk di bawa kekuburan dan dibakar, sebagai wujud bakti kepada leluhur dan mempercepat pengembalian unsur-unsur panca mahabhuta ( tanah, air, api, angin dan angkasa).                                                                                                                                          
            Dalam buku lintas asta kosali, mengatakan bahwa Asta Kosala adalah nama lontar yang memuat tentang berbagai tata cara untuk membuat menara atau bangunan tinggi, wadah, bade( tempat untuk mengusung mayat), dalam upacara ngaben (Tonjaya,1982: 1).
            Wirya dalam skripsinya yang berjudul bade padma negara, mengatakan isi lontar asta kosala, sebagai berikut dibawah ini.
"... Nyan kawaruhakna pretekaning wong pejah, nga: salwiring wewangun, ndi ta lwirnya, wong ngaran wadah... Tumpang Negara meru, gunung maliawan ika ngidep dening undagi angawe wewangunaning wong pejah. Anonim, 1a-1b (Wirya,1994:35).
Artinya adalah ada seorang yang meninggal, di harapkan membuat bangunan wadah/bade, bentuk bangunannya berupa bade tumpang meru, bade gunung maliawan, di buat dan di kerjakan oleh seorang tukang bade, ahli dalam membuat wadah bagi orang yang meninggal.
Dalam lontar itu di sebutkan, "... uttama ning  taman sari, madhyaning taman agung padma Negara araning bade, helingkna palihnya Negara padma Negara... Pelok limene ngara padma Negara munggah adegan mecanggah wang, yan noro mendegan mecanggah wang, yang metumpang solas, padma sari haraning bade ika, wenang menaga banda, nista ni padma sari.Yadin padma Negara noro menaga banda wenang Anonim, 15b-16b-17a (Wirya, 1994:36).
            Artinya: utama taman sari dan madia taman agung disebut bade padma negara, perlu di ingat tentang ciri khas padma negara, yaitu pelok atau upecira lima buah, berisi tiang dan penyanggah memakai tumpang sebelas disebut bade padma sari. Kesatria utama boleh menggunakan dan bisa memakai naga banda. Begitu juga bisa bade padma negara merupakan susunan dari beberapa pepalihan yang di hiasi dengan berbagai jenis ornamen yang akhirnya menambah keindahan bangunan wadah/Bade.
            Struktur bangunan bade terdiri dari:  a) Bagian Kaki: pepalihan bacem,bedawang, gunung tajak, dan gunung gelut.  b) Bagian Badan: pepalihan padma negara, sancak gede, taman gede, dan padma sari. c) Bagian Kepala: badan dara, rongan, dan tumpang (1994: 37). 
            Pepalihan bedawang merupakan bentuk dari kura-kura raksasa dan dua buah naga. Pepalihan gunung gelut adalah satu pepalihan wayah dan satu pepalihan pelok. Pepalihan padma negara adalah gabungan dari pepalihan wayah penyarong, padma, peneteh, padma bebatet, gulesebungkul, bebentet, padma, peneteh, padma, pengarang, pepalihan wayah dan saka mecanggahwang. Ini di susun dari bawah keatas dan beradu di tengah-tengah (1994:38).  Pepalihan wayah adalah penggabungan dari bentuk waton paid dan ganggong sebagai garis batas pepalihan satu dengan pepalihan berikutnya (1994:39).
            Pepalihan merupakan tempat untuk menaruh ornamen yang digunakan untuk menghias wadah/bade, sehingga menampilkan bentuk dekorasi yang indah, sebagai saran persembahan kepada leluhur supaya kita yang masih hidup diberikan kemakmuran untuk melanjutkan hak dan kewajiban sebagai manusia yang hidup didunia ini.
1.2. Ideologi Patra punggel sebagai Kekuasaan pada Ornamen Bali
            Ideologi patra punggel merupakan pola pengulangan dengan lengkung timbal balik, dan dapat pula di kembangkan, memgambil bentuk dasar lingkingan paku, sejenis flora. Lengkungan-lengkungan daun muda tanaman paku. Patra punggel di dalamnya terdiri dari makna simbol isi alam, seperti: jengger siap (hiasan mahkota ayam jantan), batun poh (biji mangga), kuping guling (telinga babi yang di guling), ampas nangka (selaput dalam pembungkus daging nangka), pepusuhan (tunas muda tanaman paku), dan ikut celedu (ekor dari kalajengking) (Gelebet, DKK,1981/1982:334).
            Kekuasaan Patra Punggel pada Ornamen Bali seperti: Keketusan  adalah pola dari hasil potongan berbagai macam Flora dan fauna dalam bentuk geometris, yaitu: kakul-kakulan, pae, genggong, batun timun, sulur, mas-masan, tali ilut, tali ulat, paku pipit, patra mesir (huruf T, S , dan Suwastika), bun-bunan, mote-motean, api-apaian, bias membah, dan gigi barong. Kekarangan adalah pola berupa muka topeng atau wajah dari Binatang dan manusia, yang sudah di setilir, seperti: karang asti (gajah), karang Boma (simbol alam), karang sae (kepala kelelawar), karang goak ( kepala burung), karang tapel, karang bentulu (topeng mata satu). Patra adalah pola pengulangan dengan lengkung timbal balik, dan dapat pula di kembangkan, seperti: Patra sari, patra punggel, patra bun-bunan, patra cina, patra olanda, patra samblung, patra banci, dan patra prancis (Gelebet,dkk,1981/1982:331-354).
            Jadi Ideologi patra punggel Hubungan kekuasaan atas ornamen Bali lainnya, di lihat di lapangan membuktikan bahwa patra punggel menguasai dan melegitimasi kekuasaan atas ornamen Bali yang lainnya. Sehingga dominasi patra punggel lebih kelihat dan memapankan patra punggel sebagai salah satu ornamen yang harus ada setiap penerapan pada bangunan rumah atau pelinggih yang bercirikan style Bali.
            Menurut  Seniman wadah Ida Bagus Nyoman Parta, di bawah ini.
“... mengatakan bahwa ornamen patra punggel merupakan warisan dari luluhur terdahulu, kita pewaris mengikuti aja. Patra punggel dilihat dari bentuknya mengandung nilai-nilai relegius. Dimana disetiap bagian patra punggel mewakili apa yang ada di alam. Selain itu bila di pisah-pisah dan  diulang-ulang bentuknya bisa menjadi motif ornamen yang lain. Makanya patra punggel diibaratkan bagian inti dari semua ornamen yang lainnya yang berkembang di Bali, bahkan bisa melahirkan ornamen-ornamen baru yang masih eksis di jaman serba global sekarang ini...”(Wawancara Parta,23 Juli 2011).
            Ida Bagus Putu Suryawan, berkomentar bahwa di bawah ini.
“...Patra punggel secara fungsi dan makna yang terkandung di dalamnya, sangat bernilai tinggi. Hal ini saya rasakan dalam setiap pembuatan ornamen patra punggel terasa seperti ada getaran yang menuntun dalam menyelesaikan ornamen patra punggel. Apa lagi digunakan  pada bangunan wadah/bade terasa mengandung nilai magis, sehingga bangunan wadah/bade terasa angker. Hal ini yang menyebabkan patra punggel lebih banyak digunakan untuk menghias bangunan wadah/bade...”(Wawancara Suryawan, 27 Juli 2011).
            Hal ini juga diungkapkan oleh Soepratno dalam bukunya ornamen I mengatakan bahwa ornamen patra punggel merupakan warisaan yang harus tetap dipertahankan dan diwariskan kepada generasi muda. Seorang yang ingin belajar ornamen, dasar yang harus dipelajarai adalah ornamen patra punggel, karena semua proses membuat ornamen ada pada patra punggel, baik dari segi bentuk, karakter, tekstur, finishing, dan sebagainya. Hal ini yang selalu diterapkan pada setiap anak didik yang ingin belajar ornamen Nusantara khususnya ornamen Bali (Soepratno.2007: 12).
I Nyoman Letra mengatakan bahwa dibawah ini.
“... ornamen patra punggel Bali yang diterapkan pada bangunan wadah/bade mendekati tatah kulit yang mana lebih banyak menampilkan ruang-ruang yang nantinya dilubangi untuk menambah nilai kerumitan dan karakteristik yang dipancarkan oleh ornamen patra punggel. Pinggiran ornamen patra punggel dibuat dengan lekukan-lekukan yang mana mampu menampilkan keindahan yang tidak dipunyai oleh ornamen lainnya. Hal ini yang menyebabkan ornamen patra punggel lebih banyak diterapkan pada bangunan wadah/bade...”(Wawancara Letra, 30 Juli 2010).
I Wayan Wirya  menegaskan bahwa dibawah ini.
“...ornamen patra punggel merupakan patra yang tidak bisa dilepaskan dari bangunan wadah/bade. Karena ornamen patra punggel mengandung nilai relegius yang dan nilai-nilai sosial budaya yang menjadi ciri khas dari orang Bali. Walaupun ornamen patra punggel juga ada diberbagai daerah di Indonesia bahkan dunia. Tapi ornamen patra punggel mempunyai nilai-nilai lebih seperti bentuk ornamen Bali banyak menampilkan bentuk yang belingkar-lingkar baik kekanan, kekiri, keatas dan kebawah. Sehingga dinamis dan luwes. Jika diperhatikan ornamen patra punggel selain Bali, akan kelihatan sekali perbedaannya. Hal ini yang membedakan ornamen patra punggel disetiap daerah berbeda-beda. Di Bali ornamen patra punggel disetiap daerah berbeda-beda, dengan terjadinya urbanisasi ornamen patra punggel mengalami ketersinggungan sehinga masing-masing ornamen patra punggel yang dibawa oleh seniman-seniman, saling mempengaruhi sehingga ciri khasnya menjadi gaya Bali seperti sekarang ini...”(Wirya, 20 Agustus 2010).
            Hal ini telah menjadi mendarah daging bagi para perajin dan sangging dalam penerapan ornamen pada bangunan rumah dan pelinggih di Bali, secara turun temurun. Berawal dari permintaan, pesanan dari luar Bali. Berupa Bangunan pelinggih Bali. Para perajin di Desa kapal mencari sosulusi untuk membuat cetakan pelinggih benton, untuk memenuhi pasaran. Di sinilah awal dari memudarnya dominasi kekuasaan patra punggel. Dari keseluruhan bangunan pelinggih, tidak semua di dominasi oleh patra punggel. Mengapa ini di lakukan?, karena menghindari dari kerumitan dan retak atau pecah dari ornamen yang di terapkan. Hak ini mendapat respon dari para komsumen dan menerimanya, tidak ada komplin, hal terpenting patra punggel tetap ada walaupun tidak menodominasi. Hal ini juga mendapat kritikan dari kalangan budayawan, akan hilangnya ciri ornamen Bali, yang telah di wariskan secara turun-merun dari leluhur orang Bali. Seiring berjalanmnya waktu hal ini terus berlanjut dan tetap diminati oleh konsumen, dengan model cetakan pelinggih benton.
            Di tahun 1990-an, muncul ideologi patra prancis yang ingin menumbangkan patra punggel. Ia berusaha mengganti patra punggel, dengan  model patra prancis. Kekuasaan patra prancis tidak berlangsung lama. Munculnya ideologi ajag Bali, yang di dengung-dengungkan, secara berlahan-lahan namun pasti patra punggel mulai mengeliat, berkuasa kembali. Hal ini di dukung dengan kesadaran orang Bali akan warisan budaya yang Adi Hulung itu. Dinas pendidikan propinsi Bali menetapkan ornamen Bali harus di pelajari sebagai muatan lokal, di berikan dari sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA. Bertujuan untuk melestarikan budaya Bali, khususnya patra punggel, sebagaian besar menguasai ornamen yang di terapkan pada bangunan rumah dan bangunan pelinggih, yang ada di Bali. Munculnya Pengakuan atas salah satu bentuk ornamen Bali, sebagai ornamen milik bangsa lain, membuat orang Bali Geram dan sadar bahwa seni budaya yang adi hulung, diwariskan oleh nenek moyang orang bali harus tetap di pertahankan, dan di lestarikan dan di praktekkan untuk keajegan bali.
Dengan pengaruh budaya global muncul ide-ide minimalis yang ingin menumbangkan kekuasaan patra punggel adalah bentuk lelengisan. Lelengisan merupakan bentuk hiasan tanpa ukiran, keindahan dari bentuk-bentuk hiasan dengan permainan variasi timbul tenggelamnya bidang-bidang hiasan dan penonjolan bagian-bagian tertentu, disatukan dengan hiasan pepalihan. Ideologi ini merupakan penampilan kulit luar pola dasar dari keselurahan motif ornamen. Hal ini pula mendapat respon dari konsumen dan menyukai bentuk minimalis ini, apa lagi menggunakan bahan dari batu putih, batu lahar dingin, karena mempunyai warna yang artistik dan alami.
Bentuk minimalis menjadi gaya hidup orang masa kini diera globalisasi. Semua ingin dirubah, bahkan sampai bangunan pura yang yang penuh dengan ornamen yang didominasi oleh ornamen patra punggel di rubah diganti dengan bentuk minimalis, tanpa balutan ornamen. Diseluruh Bali perubahan ini berlanjut, bahkan dengan tawaran bahan bias melile, batu gunung agung, batu padas abu-abu dan putih, ditawarkan dipinggir jalan protokol. Sehingga masyarakat banyak pilihan untuk mendirikan sebuah bangunan pura. Tapi dengan karakter ornamen patra punggel dan nilai-nilai relegius dominasi ornamen patra punggel  masih tetap dipertahankan, yang diterapkan pada bangunan wadah/bade.
            Bangunan bade disebut juga wadah, di gunakan untuk membawa sawo (mayat), dan di arak menuju setra (kuburan), untuk di bakar. Ini bertujuan adalah mempercepat pengembaliaan panca mahabhuta (unsur air, angin, tanah, udara, dan api yang ada pada tubuh manusia) (Anom,2002:1). Bentuk bangunan wadah/bade ini di hiasi oleh beragam ornamen Bali. Ornamen yang paling mendominasi ornamen yang lain adalah patra punggel. Bagian kepala, badan, dan kaki dari bangunan bade, di kuasai dan menjadi lebih menonjol hiasan patra punggel. Mengapa demikian?, menurut saging Wirya dalam skripsinya, bahwa kekuasaan patra punggel memberikan nilai artistik dari segi reringgitan dan kerumitan. Patra punggel memberikan kesan angker dan magis, sehingga memberikan kita kesan bahwa kematian adalah jalan yang tidak bisa kita hindari (Wirya,1994:30).  Kita sebagai manusia hanya bisa menjalankan hidup tanpa kita ketahui kapan kita akan mendapat giliran di jemput untuk menghadap Yang Tunggal. Patra Punggel secara keseluruhan bangunan wadah/bade memberikan kesan keagungan dan kekuasaan, bagi orang yang menggunakan, sesuai dengan kasta, kedudukan di lingkungan masyarakat di daerah Bali. Pasang surut gelombang menggoyang kekuasaan ideologi patra punggel sebagai salah satu patra yang menguasai ornamen Bali lainnya, tetap bertahan melanggengkan kekuasaannya.
Dari Hasil wawancara dan pengamatan dilapangan dan kajian buku, mengatakan bahwa Patra punggel mendominasi/menghegemoni terhadap keketusan, patra, dan kekarangan, yang menjadi kesempurnaan ornamen Di Bali. Patra punggel harus selalu ada dalam menghias berbagai bangunan Rumah, bangunan Pelinggih dan bangunan wadah/bade. Ini merupakan suatu keharusan  dan mengandung makna yang dalam dan mengandung simbol-simbol. Makna itu adalah patra punggel merupakan simbol filosofis dari isi alam, seperti Manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Secara narasi besar yang mewakili narasi-narasi kecil dari mahluk hidup di dunia ini. Setiap ornamen dari sebuah bangunan baik dari kaki, badan, dan kepala harus memasukan patra punggel. Tanpaknya ornamen patra punggel yang penuh reringgitan/greget, dan falsafah untuk direnungkan dan dipahami, untuk kelanggengan ornamen patra punggel sebagai warisan seni budaya yang adi hulung yang harus dilestarikan.                     
1.3 Kesimpulan 
            Ornamen patra punggel merupakan narasi besar yang ada pada bangunan wadah/bade. Dimana ornamen patra punggel mampu memberikan kontribusi bagi ornamen-ornamen kecil yang ikut menghias bangunan wadah/bade. Ornamen kecil diberikan tempat yang sesuai dengan kebutuhan. Ornamen patra punggel pada bangunan wadah/bade selalu mengambil bidang yang tidak mampu diisi oleh ornamen lain, seperti bagian-bagian pojok, bidang-bidang kecil dan besar dan bagian atas sebagai puncak keagungan yang tetap didominasi oleh ornamen patra punggel.Ornamen patra punggel selalu dibuat bentuknya menarik, dengan berbagai gaya dan karakter sehingga ornamen patra punggel tetap sebagai pusat sentral dari ornamen Bali.
Setiap bangunan rumah, bangunan pelinggih, dan Bangunan wadah/bade, harus memasukkan ornamen patra punggel di setiap bangunan dari bagian kaki, badan, dan kepala. Ini sesuai dengan buku maupun lontar, dan pengamatan di lapangan sebagai simbol makna dari isi alam semesta. Isi alam merupakan simbol dari narasi besar, sebagai wakil dari narasi-narasi kecil, yang begitu banyak di alam semesta ini. Hal ini dilakukan sebagai simbol, makna, dan filososfi untuk selalu menjaga alam, dan melanggengkan semua kehidupan di dunia ini, demi anak cucu kita.  

   
Daftar Informan

1.      Nama                           : Ida Bagus Nyoman Parta
Umur                            : 63 Tahun
Pendidikan                    : SR (Sekolah Rakyat)
Pekerjaan                      : Seniman/Undagi
Alamat                          : Banjar Desa, Desa Angantaka

2.      Nama                            : I Wayan Wirya
Umur                            : 45 Tahun
Pendidikan                    : SI STSI Denpasar
Pekerjaan                      : Seniman
Alamat                          : Br Jelekungkang,Taman Bali, Kabupaten Bangli

3.      Nama                            : Ida Bagus Putu Suryawan
Umur                            : 28 Tahun
Pendidikan                    : SMK I Denpasar
Pekerjaan                      : Seniman
Alamat                          : Banjar Desa, Desa Angantaka

4.      Nama                            : I Nyoman Letra
Umur                            : 50 Tahun
Pendidikan                    : SMP
Pekerjaan                      : Tukang bangunan
Alamat                          : Banjar Desa, Desa Angantaka

                                                                                                                                      
 Daftar Pustaka

Anom, Ida Bagus. 2002. Indik Ngawangun Merajan. Tabanan:Yayasan Dharmapadesa.
Anom, Ida Bagus. 2002. Indik Ngawangun Karang Paumahan Tabanan:Yayasan Dharmapadesa
Anom, Ida Bagus. 2002. Indik Taru Wangsa Lan Wigunan Ipun. Tabanan:Yayasan
            Dharmapadesa
Bastomi, Drs Suwaji. 1986, Seni Ukir. Semarang: IKIP Semarang.
Barker, Chris. 2005. Cultural Studies, Teiri dan Praktek. Peterjemah Tim kunci Cultural studies     Center, Yogyakarta: bentang pustaka.
Dokomentasi. 1993. Katalogus Lontar,  terjemahan Asta Kosala. Denpasar: Dokumentasai            Budaya Bali, Propensi Daerah Tingkat I Bali.
Gelebet, I Nyoman dkk, 1981/1982, Arsitektur Tradisioanal Daerah Bali.   Denpasar:Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Propinsi Bali.
Kadir M.A, Abdul, Drs Gustami SP. 1994, Nukilan Seni Ornamen Indonesia.        Yogyakarta:ATSRI,ASRI Yogyakarta.
K. Tonjaya, I Gd Bande. 1982. Lintas Asta Kosali. Denpasar:Toko Buku Ria
Soepratno. 2007.Ornamen Ukir Kayu Tradisional Jawa I. Semarang: Effhar.
________. 2007.Ornamen Ukir Kayu Tradisional Jawa II. Semarang: Effhar.
Susanto, Damid. Suraya, S Hadi Sudarmono, 1984, Pengetahuan Ornamen. Jakarta:Departemen pendidikan dan Kebudayaan.
Tonjaya, I Ny. Gd. Bandesa. K. 1982. Lintas Asta Kosali. Denpasar: Toko buku Ria.
Piliang, Amir Yasraf. 2005, makalah seminar Menciptakan Keunggulan Lokal Untuk Merebut       Peluang Global, Denpasar,ISI Denpasar.
Purwita, Drs I B. Putu. 1997. Upacara Ngaben. Denpasaar:Upada Sastra
Wirya, I Wayan. 1994, Sekripsi berjudul: Bade Padma Negara. Denpasar: STSI Denpasar.


                                                                     DAFTAR FOTO
                                            Dominasi patra punggel pada bangunan wadah/bade

                                               


 
                                              1. Dominasi patra punggel pada karang goak,
                                                  foto tahun 2011. Gungjayack.

                                                 2. Dominasi patra punggel pada parba,
                                                        foto tahun 2011, gungjayack
                                             3. Dominasi patra punggel pada karang goak,
                                                 foto tahun 2001, gungjayack.

                                      5. Dominasi patra punggel pada bagian kepala bangunan wadah,
                                          foto tahun 2011, Gungjayack.

                                           6. Dominasi patra punggel pada karang goak,
                                               tahun 2011, Gungjayack.

                                  7. Bentuk patra punggel pada bagian atas bangunan wadah,
                                      foto tahun 2011, Gungjayack.

                                    8. Bentuk patra punggel bagian samping bangunan wadah,
                                        foto tahun 2011, Gungjayack
                                                   9. Bentuk keseluruhan bangunan wadah 
                                                       yang didominasi patra punggel,
                                                        foto tahun2011, Gungjayack

1 komentar:

  1. Salam hormat, Pak Agung.

    Saya Nurul, mahasiswi Universitas Padjadjaran, Bandung. Saya sedang melakukan penelitian tentang ornamen Bali. Ingin bertanya tentang ornamen yang ada di uang lima puluh ribu rupiah. Jika berkenan, saya ingin berdiskusi tentang ini. Berikut kontak saya, nurulasrimulyani@yahoo.co.id.
    Ditunggu, Pak.
    Terima kasih.

    BalasHapus